Berkelana · Berkisah

Sekolah di Antara Awan

Waktu menunjukkan pukul 6.42 WIT. Segera setelah ibadah pagi itu, kami bergegas ke rumah untuk bersiap-siap berangkat sekolah. Kita akan belajar di balik bukit, di antara awan, di barisan pegunungan tengah Papua.. di sekolah Advent Hobotonggo.

Sekolah dimulai pukul 8.00 WIT, tapi anak-anak sudah datang lebih awal untuk mandi dulu. Iya, di sana anak-anak mandinya setiap sebelum sekolah aja, di sungai samping sekolah. Kenapa? Udaranya dingin banget sih memang dan gak terbiasa mandi juga penduduknya. Jangankan muridnya, gurunya pun mandi hanya setiap menjelang Sabat dan kalau lagi cuci baju. Hihihi.

Kami (saya, kak Afri, dan kak Basuki) sarapan kilat lalu berangkat ke sekolah. Agenda hari ini: mengajar dan survei lapangan!

Sekolah Advent Hobotonggo saat ini terdiri dari 4 kelas, yaitu kelas A, B, C, D atau setara dengan (pelajaran) kelas 1, 2, 3, 4. Murid-murid di dalam kelas-kelas tersebut usianya bervariasi. Misalnya, ada yang sudah berusia belasan tahun tapi masih kelas C, atau yang masih 9 tahun tapi sudah di kelas D.

SD Hobotonggo
Diambil dari laman facebook Jessy Makatika
Keempat kelas dipimpin oleh empat orang guru, satu guru untuk satu kelas. Kelas A dipimpin oleh Sir Osso. Beliau asli Hobotonggo jadi cocok sekali untuk mengajar anak-anak kelas A yang sebagian belum bisa berbahasa Indonesia. Kelas B oleh Sir Pithe. Kelas C sama Sir Basuki. Kelas D dengan Mam Jessy yang adalah kepala sekolah dan istri dari Sir Pithe.

Lanjutannya lihat aja nih ya foto-foto di sana.

img_0737
SD Advent Hobotonggo

img_0649
Apel pagi sebelum kelas

 

Doa pagi berkelompok
Anak-anak yang kemarin bolos sedang ditegur
Chapel; keempat kelas digabung
Kelas A
Kelas B
Kelas C
Kelas D
Renungan di Chapel oleh Kak Afri
Kelas A dan B digabung
Jam istirahat
Main “gitar” di jam istirahat
Si adek main tanah aja
 

img_0759
Berbaris untuk pulang
Okey. Lanjut. Survei!

Survei apa sih? Survei itu ngapain aja sih?

Survei lapangan. Seperti yang saya ceritakan di AADP, kenapa saya ke Hobotonggo : tak lain dan tak bukan adalah untuk mengadakan survei lapangan. Survei lapangan dilakukan untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam perancangan bangunan. Nah, di dalam survei ini saya mengumpulkan data-data dimensi lokasi pembangunan, dimensi bangunan eksisting (yang sudah ada), data tanah (secara sederhana), data ketersediaan air bersih, data potensi longsor (perkiraan), data ketersediaan bahan bangunan, data ketersediaan tenaga kerja setempat, dll.

Nah. Tuh Naomi kamu terlihat seperti expert, tahu banyak apa yang mau disurvei. Sebenarnya pas berangkat ku tak terpikir sebanyak itu lho, seperti yang saya curhatin di Ekballo. Tapi begitu turun ke lokasi, inspirasi mengalir begitu saja. Tssaaahh. By God’s guidance ajalah bisa terpikir harus mengumpulkan data-data sebegitunya, meskipun yah sederhana banget sih. Jadi teringat kata bapak dosen dulu di jaman kuliah, yang penting itu Sense of Engineering. Tak heran saya sampai ambil mata kuliah beliau sampe tiga kali, demi memperoleh Sense of Engineering. Hehe alibi aja itu sih, emang susah kuliah Analisis Struktur Statis Tak Tentu tuhh. Namanya aja sudah tak menentu begitu. Huft.

Balik ke Hobotonggo.

Ada beberapa hal menarik di sini.

  • Mata air terdekat dengan sekolah itu deras sekali. Kamu bisa isi 1 botol seliter penuh dalam waktu 2 detik saja! 
  • Lokasi sekolah diapit 2 sungai. Sungai di sisi timur itu aliran kakus. Sungai di sisi barat itu aliran mandi. Jangan salah aliran yahh.
  • Bahan bangunan alami di sini bisa didapat dengan mudah. Mau kayu? Ambil di hutan di atas. Butuh pasir? Ambil dari sungai di bawah.
  • Tapi jangan harap bisa bangun sekolah pake semen. Satu, harga semen di Papua aja mahalnya minta ampun. Dua, semen yang berat ini sulit diangkut di pesawat maupun saat dipanggul dari bandara ke sekolah.
  • Itu dia mengapa bangunan eksisting sekolah menggunakan konstruksi baja ringan yang dibangun manual oleh para bule dalam waktu 6 hari sajaa! Spartan!! Baca di sini lengkapnya.

Survei dilanjutkan besoknya, disambung dengan penjemputan di siang hari oleh Pilot Gary Roberts. Sesampainya di kompleks Aviation, Pastor Boyd menyambut kami lalu kami berbincang sedikit tentang rencana pembangunan sekolah ini. Beliau sudah memikirkan alternatif bahan bangunan selain baja ringan, yaitu Compressed Earth Block.

Sekian lama waktu ketika saya baca-baca teknologi Compressed Earth Block ini, keren euy! Kita bisa bikin bata langsung dari tanah yang ada. Tapi eh tapi, setelah mencermati jelas kerja teknologi ini.. saya ternyata melewatkan investigasi karakteristik tanah! Dan investigasi ini ternyata bisa dilakukan dengan amat sangat sederhana tanpa perlu prosedur laboratorium jaman praktikum mekanika tanah heey! Anak sipil pasti berdecak kagum tepuk tangan geleng-geleng kepala (paling tidak, gue) kalo baca cara tes tanah sederhana ini. Kalo saya sudah baca ini jaman kuliah dulu, mungkin saya lebih menggemari kuliah dan praktikum Mekanika Tanah.

Anyway, sudah sejauh mana nih perkembangan pengembangan kompleks sekolah Hobotonggo kita?

Saya mengajak dua kakak-kakak arsitek yang berkecimpung di ranah kontraktor untuk memvisualisasi tampak, detil, dan kelengkapan dari setiap bangunan dalam masterplan.

Kami butuh anda juga. Iya. Anda yang sedang membaca ini.

Bantuan utama yang paling kami butuhkan adalah DOA.

Selain itu, jika anda rindu melayani kebutuhan jiwa raga anak-anak Hobotonggo secara langsung, kami dengan senang hati terbuka terhadap setiap kerinduan anda untuk melayani sebagai guru dan/atau suster di Hobotonggo. Namun, sebagai catatan, secara sukarela 🙂

Satu lagi. Jika anda rindu untuk berbagi, kami dengan rendah hati siap mengelola persembahan anda untuk proyek pembangunan sekolah ini 🙂

Setiap pertolongan kasih anda sangat bermanfaat untuk penduduk dan jemaat di Hobotonggo. Untuk setiap doa, partisipasi, dan pertanyaan, anda bisa menghubungi saya di sini.

Nama: Naomi Panjaitan

Nomor: +6282167505952

Facebook: Naomi Fransiska Panjaitan

Blog: Berangkai

Anda juga bisa berkomunikasi langsung dengan Pastor Darron Boyd via facebook. Beliau adalah koordinator “Adventist Mission and Evangelism” di Papua, dari Global Mission.

Oiya saya harap selesai membaca post ini, anda tidak berlalu begitu saja. Tolong doakan setiap orang yang terlibat dalam project besar ini, melalui agama apapun anda berdoa 🙂 Semoga setiap partisipasi boleh mendatangkan kebaikan untuk para penduduk Hobotonggo.

Omong-omong project yah. Lapak sini kan urus bagian bangun-membangun, lapak sebelah urus bagian publikasi. Hihihi. Tunggu film produksi Jasper Iturriaga dan Andrew Boyd, sementara itu tonton dokumentasi produksi film Hobotonggo di seri vlog mereka.

Jungle Missions: Episode 1

Jungle Missions: Episode 2

Cek juga video dokumentasi sejarah perjalanan Hobotonggo dari pertama kali “dibuka”, karya Mam Jessy 🙂

God is within you. God is in you 🙂


Seri Hobotonggo :

  1. Ada Apa dengan Papua?
  2. Ekballo
  3. Akhirnya, Hobotonggo
  4. Sekolah di Antara Awan
Iklan

3 thoughts on “Sekolah di Antara Awan

  1. Ping-balik: Ekballo – Berangkai

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s