Berkelana · Berkisah

Akhirnya, Hobotonggo

Setelah cerita alasan mengapa saya ke pedalaman Papua, curcol waktu gak-jadi gak-jadi juga terbang ke sana, akhirnya sampai juga di bagian utama rangkaian kisah ini.. Hobotonggo!

Senin, 27 Februari 2017

12.30 WIT Charlie Alpha (CA) lepas landas dari lapangan terbang Adventist Aviation Indonesia di Doyobaru, kabupaten Jayapura.

Para pengendara berhenti sebentar mau lihat pesawat lepas landas

img_0360
Pemandangan dalam penerbangan menuju Hobotonggo
13.30 WIT CA mendarat di lapangan terbang Walma, kabupaten Yahukimo. Penerbangan memakan waktu tepat 1 jam.

Pendaratan mulus, tidak seperti pendaratan pesawat terbang komersil low budget yang biasa saya naiki. Hehehe. Entah faktor ketangkasan pilot atau faktor ukuran pesawat.

Warga nongkrongin pesawat mendarat di Walma
Pendaratan ini buat saya juga unik karena banyak warga yang menyambut. Saya gak tau mereka dari mana aja. Tapi belakangan saya ngerti kalau yang menyambut kami saat itu sebagian adalah warga sekitar lapangan terbang Walma situ, tapi sebagian besar adalah warga (sekaligus jemaat) Hobotonggo yang akan saya sambangi. Mereka datang untuk menjemput saya, kak Afri, dan kak Pen Hermanus, menuntun perjalanan kami, dan membawakan barang kami. Khususnya barang bawaan kak Pen Hermanus sih, karena kak Pen membawa titipan warga kampung juga dari Jayapura.

Mama-mama siap bantu angkat barang dengan noken super
13.53 WIT CA terbang kembali menuju Doyobaru dengan janji akan kembali lagi menjemput saya tanggal 1.. April! Hahaha, padahal harusnya 1 Maret. Saya sih senang saja dibercandain pilot Gary begitu, berharap memang TUHAN kasih saya tinggal di situ sebulan dengan coincidences. Toh gak ada sinyal di Hobotonggo, pada mau nyariin gue gimana hayoo. Hahaha.

Warga membicarakan jadwal penerbangan CA dengan Pilot Gary Roberts
Seorang kakak memberi instruksi kepada anak-anak dan ibu-ibu dalam pembagian barang bawaan. Kakak ini kentara sekali tidak sama dengan orang Hobotonggo, orang Papua, maupun orang Indonesia Timur lainnya; tapi memimpin rombongan. Kak Basuki namanya. Dia relawan di Hobotonggo sebagai guru, suster, juga counselor jemaat. Kakak campuran Jawa-Manado ini yang akan menjadi host saya dan kak Afri selama di Hobotonggo.

Kak Basuki memberi instruksi
14.05 WIT Kami memulai perjalanan kami dari Walma menuju Hobotonggo. Saya dan kak Afri disuruh berganti alas kaki dengan sepatu boots karena jalanan akan sangat becek dan menyeberang sungai kecil juga nantinya.

Terima kasih sudah dipinjami boots
Sambil jalan, saya foto-foto melulu. Bukan banci foto walau iya sih sedikit hehe, tapi karena saya juga dipesani rencana membangun jalan akses dari Walma ke Hobotonggo.

Medan berbukit menuju Hobotonggo
Jalan kaki menuju Hobotonggo melewati beberapa bukit, 3 katanya, tapi saya gak hitung. Medannya tidak terlalu sulit menurut saya, untuk ditempuh dengan jalan kaki ya maksudnya, tapi kalau untuk dibangun jalan akses di atasnya sih sulit juga cyin.

Mendaki bukit menuju Hobotonggo
Selama perjalanan, saya dipandu oleh adik Nelise. Somehow, dia di dekat saya terus jalannya dan bantuin saya saat naik turun tebing maupun ketika lewatin sungai.

Dengan Nelise
Kak Basuki sempat ngebercandain kalo saya dikabarkan bakal tinggal di sana dua bulan. Nah yang ini lebih lama lagi dari candaan sir Gary. Hahaha. Saya bilang, “Wah dengan senang hati kak, kalau TUHAN izinkan.”

Kak Basuki saat menyeberangi sungai kecil
15.03 WIT Kami tiba di Hobotonggo!!

Tiba di Hobotonggo
Woaahh senang sekali bisa sampai. Jalannya tidak jauh, hanya 1 jam perjalanan saja. Pas lihat bangunan sekolah dari atas, saya terkagum. Kemarin saya cuma lihat bangunan itu dari foto, sekarang saya lihat dengan mata kepala sendiri.

(Akhirnya) melihat langsung sekolah Hobotonggo
Setelah berbagi barang, saya ke kamar mandi. Sejenak saya teringat pertanyaan kak Rina dan kak Rinni soal fasilitas MCK. Nih kak tak kasih lihat segarnya, hahaha. Well, fasilitas kakusnya dibangun dengan gaya naturalis minimalis, hehe. Airnya langsung dari sungai kecil yang cukup deras coy. Kerenlah.

Fasilitas kakus punya guru-guru Hobotonggo
Anyway, tempat kami menumpang adalah tempat tinggal para guru relawan sekaligus klinik.

15.46 WIT Sementara Suster Afri menangani beberapa pasien yang datang (warga sengaja datang karena tahu ada suster datang), saya dan kak Basuki turun ke bawah ke lokasi sekolah. Kami mau cabut beberapa sayuran segar untuk makan sambil sedikit menengok site kompleks sekolah.

Perkebunan milik Sekolah Hobotonggo
Kami balik ke atas, masak-masak dengan kayu bakar. Karena belum biasa dan belum tahu triknya, mata saya keperihan luar biasa kena asapnya. Belakangan saya pelajari bahwa mata kita bisa gak perih-perih amat kalau sejajar dengan api.

Kak Afri nungguin mie matang
Sehabis makan, kami unloading barang bawaan untuk Hobotonggo. Kak afri bawa obat-obatan, saya bawa bahan-bahan kebersihan: sabun, odol, dan sikat gigi. Terima kasih kepada para donatur untuk kebaikan hatinya walau anda mungkin gak ngerti waktu itu saya ngapain nyari-nyari bantuan bahan-bahan kebersihan itu.

Amanah sabun, odol, dan sikat gigi tersampaikan
18.07 WIT Kak Basuki mengajak kami ibadah petang ke gereja. Tunggu, ibadah apa? Ini kan Senin malam, bukan Rabu Malam (di gereja Advent di seluruh dunia, ada ibadah persekutuan doa setiap Rabu malam). Ternyataaa, jemaat yang tinggal dekat gereja beribadah pagi dan petang sama-sama setiap hari di gereja! Sweet banget gak sihh kayak jemaat mula-mula!

Ibadah petang bersama di gereja
Oiya malam itu hujan. Saya dan kak Afri sih pake jas hujan plastik dari/ke rumah. Jemaat juga punya “jas hujan” buatan sendiri lho dari daun palma gituu.

Jas hujan khas Hobotonggo
Selasa, 28 Februari 2017

6.26 WIT Masih dengan nuansa jemaat mula-mula, pagi itu kami ke gereja untuk ibadah pagi bersama jemaat.

Berfoto setelah ibadah pagi
Selesai ibadah kami foto bersama jemaat sebentar, masak dan makan pagi, lalu berangkat ke sekolah!


Tahu gak sih kalau Hobotonggo adalah satu-satunya sekolah di wilayah Hobotonggo dan sekitarnya? Bagaimana kondisinya? Tunggu cerita selanjutnya! Mehehehe.


Seri Hobotonggo :

  1. Ada Apa dengan Papua?
  2. Ekballo
  3. Akhirnya, Hobotonggo
  4. Sekolah di Antara Awan

 

Iklan

5 thoughts on “Akhirnya, Hobotonggo

  1. pagi Naomi,
    baru sempat baca satu kisahmu…

    wah, istimewa sekali ya…tugas mulia mi…
    semoga suatu saat saya juga punya pengalaman seru seperti itu.

    terima kasih untuk mengingat pertanyaan saya, keren banget kamar mandinya…jernih buanget airnya…
    anyway mereka enggak pup di sungai kan?

    saya juga surprise dengan jas hujannya…kece banget sih…alam itu sudah menyediakan ya…modelnya simpel ya…elegant euy…

    jadi curious dulu Adam hawa pakai baju kulit binatang itu kayak gimana…

    cuma satu yang saya sayangkan, di alam yang begitu alami, mengapa makannya mie? kayaknya ubi rebus malah lebih bergizi loh mi, atau hasil alamnya apa ya, belum diceritain tuh mi…
    kalau kebiasaan makan mie instant ditularkan ke warga, akan banyak penyakit ke depannya. Prihatin.

    God bless Hobotonggo. Thank you for sharing ya….

    Rina

    Suka

    1. Thanks for reading, kak rinaa!
      Pengalaman kk di lombok juga seru tuhh, sharing dong kaks. Hehe.
      Iya kak, mie masih jd pergumulan temen2 di sana. Kami juga makan ubi rebus, sayur organik, dll kok kak sebenernya. Hihi.
      Gbu, kak rina :))

      Suka

  2. Ping-balik: Ekballo – Berangkai

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s