Berkelana · Berkisah

Ekballo

Satu hal yang paling saya ragukan tentang diri saya dalam proyek Hobotonggo ini adalah.. kemampuan saya dalam menyelenggarakan survei lapangan, membuat rancangan bangunan, dan melaksanakan pembangunan. Ga satu dong? Semuanya dong? Iya semuanya hahahaha. Itu hal besar tau untuk seorang penyandang gelar esteh sipil. Rasa-rasanya jungkir balik bareng temen-temen sekelompok waktu kuliah ngerjain tugas besar merancang gedung yang semu gak seberapa jungkir baliknya dibanding dapet tugas merancang bangunan beneran dan sendiri. (Lengkapnya buka di aadp.)

Gilak! Mengutip kata Pavel Goia dengan bahasa Inggris logat Romania,

“If it is not crazy, it is not from God. If He tells you His plan, it must be crazy!”

Menunggu dijemput

Saya tiba di Jayapura pukul 7.30 WIT hari itu. Sabat, 25 Februari 2017. Meski mepet dengan siap-siap ke gereja, saya beruntung bisa dapat makan subuh karena pengalihan penumpang ke penerbangan yang setelahnya, bisa dapat pertolongan porter dengan sepuluh-ribu-rupiah saja dibanding ngangkat-ngangkat tentengan 32kg, dan bisa dapat temen ngobrol selama nunggu Erin jemput.

My 32-kgs baggage

Agak jet lag ditambah buru-buru bersiap ke gereja membuat saya agak kikuk mau berkenalan dengan segenap penghuni kos Erin di Doyobaru, tempat saya singgah sebelum ke Hobotonggo. Ada 4 perempuan penghuni utama kos, 2 di antaranya bule : Erin, Afri, Paige, dan Caddy. Lalu 2 perempuan yang transit seperti saya : Intan dan Retno. Ketika kami akan berangkat, ada 3 laki-laki yang nambah bakal gereja bareng kami : Henry, Natan, dan Pison. Satu di antaranya saya kenal dari YMAT Jayapura tahun lalu seperti saya kenal Erin, si Henry. Kami beribadah di gerejanya Erin di Abepura yaitu daerah dekat kota Jayapura, di jemaat Russelben, yang berjarak tempuh 1 jam dari Doyobaru Sentani dengan angkot sewaan yang dikendarai Pison.

Berangkat gereja

Masih dengan kebingungan what should I do dan what am I doing yang saya bawa selama ibadah, as usual, TUHAN paling suka menjawab kegundahan kita. Hari itu Ia meringankan kekhawatiran saya. Kebanyakan melalui apa yang disampaikan oleh teman-teman seperjalanan yang saya sebutkan tadi yang notabene baru saya kenal (guys, kalo kalian baca ini.. I just wanna thank you guys, for your songs, your sermon, your testimonies, your stories, and also your life in particular.)

Nyobain lagu baru dengan PA Russelben
Video uploaded on my facebook account!

Tutup Sabat di tepi Danau Sentani dengan jemaat Russelben

Malam minggu, ngebercandain Pison sampai terpingkal
Pengen sih dibagikan, tapi ini terlalu abstrak dan terlalu pribadi untuk ditulis di media ini. Saya bersedia berbagi dengan teman-teman, tapi japri aja ya. Hehehe. Intinya sih, TUHAN meyakinkan saya bahwa bukan saya yang memilih untuk terlibat dalam kesempatan (proyek Hobotonggo) ini, tapi Ia yang memilih saya (Yoh. 15:16). Ia memilih saya (dan kamu) bukan karena kita mampu. Karena itulah, kita perlu berdoa memohon petunjuk-Nya di setiap langkah. Jadi keinget ayat pamungkas yang cocok buat anak Sipil nih.

“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” – Mazmur 127:1a

Naomi, Retno, Afri, Intan, Erin
Ternyata eh ternyata habis “diajarin” teori demikian, saya langsung “diajarin” prakteknya. Minggu, 26 Februari 2017, pukul 9.00 WIT adalah jadwal penerbangan saya dan Erin (dan kak Pen Hermanus) ke Hobotonggo melalui Walma. Tapiiii.. dari dini hari langit Jayapura menurunkan hujan sampai pagi itu. Singkatnya, penerbangan kami hari itu batal. Afri kerja (di AAI). Erin menemani Tantenya yang sakit. Saya ikut Retno dan Intan belanja kebutuhan mereka sebelum memasuki kembali rimba Membramo.

A day with Intan-Retno partnership
Sambil nemenin mereka belanja, saya mikir.. yaudahlah ya kalo memang gak jadi ke Hobotonggo yaudaahh mungkin saya memang TUHAN bawa ke sini cuma sampe Doyobaru aja untuk belajar dari segenap kenalan baru saya. Untuk catatan, waktu itu saya udah pegang tiket balik Jakarta untuk hari Rabu, 1 Maret 2017 karena janji izin sama pak Bos. Ke Hobotonggo atau nggak, ya Rabu itu harus balik ke Jakarta. Waktu Retno tanya gimana kalo gak jadi ke Hobotonggo, saya jawab, “Gpp, no. Belakangan ini TUHAN lagi sering ngajarin saya melalui kegagalan.”

Di hari yang sama, mata saya nyangkut di salah satu buku Erin karena judulnya yang rasa-rasanya pernah saya baca kutipannya.. Radical Prayer. Saya lahap habis buku karya Derek Morris itu daaannn isinya keren parah! Radikal abis, kayak judulnya. Kapan-kapan tak bikin review-nya wis (jadi banyak janji postingan nihh, hehe). Satu yang paling berkesan dari Radical Prayer ini, Ekballo.

The Radical Prayer
Kosakata bahasa Yunani ini sudah pernah saya dengar dalam seminar doanya Pavel Goia (yang di atas saya kutip kata-katanya). Goia meneliti bahwa ekballo yang diterjemahkan sebagai cast out atau serahkanlah dalam 1 Petrus 5:7 berarti melempar / membuang. Jadi kalo udah dilempar / dibuang, ya gak diambil lagi, udah diserahkan.

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” – 1 Petrus 5:7

Sementara Morris di dalam buku “radikal”-nya menulis bahwa kata ekballo juga dipakai dalam Lukas 10:2 yang diterjemahkan sebagai send out atau kirimkan. Yesus berpesan agar kita berdoa kepada Tuan-empunya-tuaian untuk ekballo para pekerja, para pekerja diserahkan / dilempar / dibuang? Atau “dicemplungkan” kali yaa.

“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” – Lukas 10:2

Dan ketika para pekerja di-ekballo alias dicemplungkan oleh Tuan-pemilik-tuaian (Luk. 10:2), juga mengalami sejumlah radical challenges (Luk. 10:3), si pekerja dipesankan untuk tidak bawa ini dan itu. Si pekerja gak punya apa-apalah istilahnya sehingga ia perlu memiliki radical dependence (Luk. 10:4). I learn a new thing.

Isi Buku The Radical Prayer
Senin, 27 Februari 2017. Dini hari. Erin telepon dia gak bisa dampingi saya karena Tantenya meninggal malam itu. Afri menggantikan Erin sebagai rekan perjalanan saya. Pukul 5.00 WIT kami sudah siap berangkat ke AAI untuk terbang, tapi cuaca masih kurang bersahabat seperti hari kemarin. Oke, TUHAN. I thank You for these radical challenges (efek baca Radical Prayer). Gak tau mau berapa kali saya dihadapkan pada gak-jadi gak-jadi lagi. Apa pun TUHAN, TUHAN tahu yang terbaik.

Pesawat Penerbangan Advent
Menjelang siang, Pilot Gary kasih kabar kalau kita bisa terbang ke Walma pukul 12.00 WIT. Saya wow aja deh. Mau berangkat aja kok panjang banget ceritanya. Hahaha. Sekalipun udah cuti kek, udah nyampe Doyobaru kek, sampe standby setiap detik pun untuk diterbangkan ke Hobotonggo gak ada apa-apanya kalau bukan TUHAN yang kirim, yang sent out, yang ekballo.

12.00 WIT. Pilot Gary mendarat di AAI. Beliau istirahat sebentar sambil barang-barang di-loading ke dalam pesawat. Penumpang tujuan Walma hari itu ada saya, kak Afri, dan kak Pen Hermanus, putra daerah Hobotonggo.

Kak Pen Hermanus, Kak Afri, Naomi
Waktu (akhirnya) terbang dan melihat kemegahan alam (sebagian) pulau Papua dari jendela buram pesawat, saya merasa sangat spesial. Lebih dari diajak kerja sama oleh Pastor bule yang berdedikasi, kenalan dengan para pelayan TUHAN yang baik hati, atau diterbangin pesawat Misi oleh Pilot andal..

Portrait of Pilot Gary Roberts
Sesungguhnya dibalik orang-orang hebat ini ada TUHAN yang kami sama-sama kenal, yang kita sama-sama kenal. TUHAN yang menciptakan gunung dan laut yang sedang saya saksikan ini lho.

Pemandangan menuju Hobotonggo
TUHAN yang menentukan jadwal penerbangan kami. TUHAN yang menyelamatkan satu kampungnya kak Pen Hermanus, Hobotonggo.  TUHAN pemilik tuaian. TUHAN yang mencemplungkan barangsiapa yang dipilih-Nya.

I thank You, God, for this ekballo 😀

Warga menyambut

To be continued. 


Duh. Maaf ya lama ngelanjutin Ada Apa Dengan Papua nya, susah cari waktu nulis one shot. Maaf juga belum nyampe Hobotonggo nih ceritanya. Saya pikir sayang sih rasanya kalau bagian pra-keberangkatan ke Hobotonggo dilewatkan. Hehe. Semoga bermanfaat 🙂

Ditunggu bagian pamungkasnya, Hobotonggo!!


Seri Hobotonggo :

  1. Ada Apa dengan Papua?
  2. Ekballo
  3. Akhirnya, Hobotonggo
  4. Sekolah di Antara Awan
Iklan

7 thoughts on “Ekballo

      1. Hei kamu pikir aku tidak vakum nulis sepanjang masa kuliahku hahaha. Gpp wil gak penting dulu tulisan kita, asal konsisten. Lama2 keluar kok gaya tulisan kita yg bermanfaat. Tapi tulisanmu keren2 kaliii.

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s