Berkelana · Berkisah

Ada Apa Dengan Papua?

Puji TUHAN alhamdulilah praise the Lord, saya senang sekali bisa menginjakkan kaki sekali lagi di tanah Papua yang permai akhir Februari yang lalu setelah 13 bulan berlalu sejak pertama kalinya berjejak di bumi Kasuari. Dulu saya di Jayapura tinggal 14 hari lamanya, yang ini hanya 5 hari. Hiks. Dulu saya datang dengan tim, sekarang sendiri. Dulu saya “tugas” di kota Jayapura sampai Doyobaru yang panasnya minta ampun, yang kemarin ini di pedalaman pegunungan tengah Papua (se-kabupaten bahkan sebaris sama Gunung Jayawijaya omg!), ngertilah yaa dinginnya segimana. Meski begitu, kedua perjalanan ini sama-sama perjalanan yang luar biasa. Bisa dibilang perjalanan iman.

Baru tiba di Jayapura, 21 Jan 2016
Kali pertama ke Papua, saya terlibat dalam sebuah project yang agak sulit dijelaskan dan sulit dimengerti. Waktu itu saya adalah mahasiswa tingkat akhir banget yang fix rencana sidang skripsi dan wisudanya gatot. Makanya waktu itu, temen-temen umat sisa di kampus yang bermukim di labkom (laboratorium komputer) sebagai base camp angkatan 2011 pada bilang, “Enak banget lu mi jalan-jalan mulu” atau “Koe dolanan wae nam, skripsi piye”. You guys just do not understand! So do I sih, hahaha. Singkatnya, saya ikut tanpa tahu detil apa yang akan saya lakukan, berapa ongkos yang perlu saya siapkan, tinggal di mana, makan apa. Gak tau.

ymat-papua
Tim fasilitator YMAT Papua
Tapi sebagai imbalannya, saya dapat abang-kakak-mas-teteh juga teman-teman baru yang inspiratif sekali, tempat tinggal ala bule di samping runway (serius deh!), bisa nyicipin makanan asal Papua sampai USA, nikmati danau dan gunung dan laut, nyeberang ke negeri orang tanpa paspor (lagi ;p), sampai mengeluarkan hanya limariburupiah saja sepanjang 14 hari di sana! God-is-my-leader experience banget deh! Kapan-kapan tak ceritake yah kisah trip yang ini 😀

Limariburupiahku untuk Twisties, jajanan hits perbatasan
Well, di suatu siang yang melelahkan, saya dapat whatsapp dari abang who makes my first trip to Papua. Dia bilang Pastor yang dulu jadi host kami akan hubungi saya untuk mengajak saya terlibat di salah satu project-nya. Membaca whatsapp itu aja rasanya yaampuuunn rasanya kayak udah terbang ke Papua lagi. Gak lama, si Pastor telepon dan menjelaskan maksudnya melibatkan saya. Well, I was really excited yet nervous! Excited lah jelaass mau ke Papua lagi ke pedalaman pula keren paraahh. Tapi nervous-nya setengah mati because I am really inexperienced to do that kind of project. Emang ngapain sih?

yahukimo
Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua
Once upon a time, ada sebuah desa terpencil di barisan pegunungan tengah Papua yang dinaungi kabupaten Yahukimo serta terletak di antara kecamatan Anggruk dan kecamatan Walma, desa Hobotonggo namanya. Desa yang dihuni oleh suku Yali ini memiliki sebuah gereja dan sekolah pionir yang baru didirikan tahun 2015 yang lalu. Pastor mitra saya ini pernah menulis proses pembangunan gerejanya yang penuh perjuangan dan mujizat di sini. Hampir dua tahun berjalan, anak-anak yang datang untuk belajar bertambah terus. Pastor berencana meningkatkan fungsinya dengan membangun kompleks sekolah. Iya, jadi tambah ruang kelas, buat lapangan olahraga, bangun perumahan guru-guru, sampai perkebunan.

Site sekolah Hobotonggo
Jangan pikir yaelah bangun sekolah aja biasa keles, nggak yaa. Hobotonggo itu bisa dicapai dari kota terdekat, yaitu Wamena, selama 2-4 hari. 2 hari kecepatan masyarakat sana, 4 hari (atau lebih kali) kalo pake kecepatan kamu. Akses lain adalah dengan berjalan kaki 45-90 menit dari Walma, tapi untuk sampai Walma kita harus naik pesawat kecil yang dioperasikan oleh penerbangan-penerbangan misi dari sejumlah denominasi Kristiani di tanah Papua (Adventist Aviation Indonesia salah satunya). Sekali terbang itu jangan pikir murah yaah, bisa 10x lipat harga tiket ngana dari Jakarta ke Jayapura hey. Kebayang lah yaa gimana cara membawa alat dan bahan pembangunan ke sana, kebayang beratnya dan mahalnya. Untuk alasan itu lah, Pastor yang tahu saya kuliah teknik sipil (dari trip tahun lalu) minta saya buat master plan pembangunan kompleks sekolah Hobotonggo guna efisiensi pembangunan dan biaya.

Sekolah dasar Hobotonggo
Ketika ditanya bilamana saya bersedia membantu? Dalam hati saya bilang, “YA IYALAH MAU PASTOR YAMPUN DEMI APA GAK USAH PAKE DITANYA LAGI!” Tapi terus saya mikir ketika itu, saya nih orang kantoran. Catat. Orang kantoran. Anak sipil kantoran. Kerjaan gue tuh lompat-lompat dari jadi penulis, MC, moderator, dirigen Indonesia Raya, notulis, EO alias Event Organizer, sampe penerjemah. Di kantor yang sama. Dengan bos yang sama. Iya aneh, kerjaan gue kayak ngerjain semua lowongan kerja di Sribulancer emang, wkwkwk.

Doa pagi sebelum kelas
Balik lagi. Intinya, saya sangat tidak berpengalaman sama sekali dalam ketekniksipilan di lapangan, dalam perancangan bangunan, apalagi dalam pelaksanaannya. Ohh nooooo. Ya okelah dulu emang pernah merancang gedung sekolah, jalan raya, sampe saluran irigasi waktu kuliah di tugas besar SB sampe PBTS. Tapi bedalaahh yaa dengan pengalaman lapangan. Pastor yakin ngajak saya di project ini?

Salah satu ruang kelas
Satu lagi. Saya terikat kontrak kerja sampai Juni (per 6 bulan memang). Waktu itu bulan Januari. Mereka butuh cepat bangun sekolah, kalo bisa sebelum tahun ajaran baru. Membangun kompleks sekolah gak bisa cepet lho, apalagi dengan kondisi lapangan seperti itu. Izin kerja sama bos juga gak bisa lama-lama keles, ya kali kan minta izin 1 bulan demi kemanusiaan gitu. Ya gak mungkin lah yaa, realistis aja gue. Untuk itu saya, meski sangat sangat sangat excited, gak berani terlalu berharap bakal pergi ke Hobotonggo untuk project ini. Saya kembalikan sama TUHAN yang memiliki saya, pekerjaan saya saat ini, kesempatan saya terlibat dalam project ini, project ini, Pastor, murid-murid di Hobotonggo, guru-guru di Hobotonggo.. TUHAN yakin ngajak saya di project ini?

To be continued.


Berasa penting aja yaa ini cerita pake bersambung segala. Hahaha. Abis ceritanya panjang. Baru ini mau kasih tau aja saya udah pulang ke Bogor kok. Hehehe. Makanya bisa online toh.

Semoga ada yang nungguin lanjutannya. Hehe. I will tell you how amazing this trip is because our God is reaaaalllyy amazing!


Seri Hobotonggo :

  1. Ada Apa dengan Papua?
  2. Ekballo
  3. Akhirnya, Hobotonggo
  4. Sekolah di Antara Awan
Iklan

3 thoughts on “Ada Apa Dengan Papua?

  1. Ping-balik: Ekballo – Berangkai

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s