Berkomentar

Teen Parents

Semalam gue udah ngantuk, tapi gue keinget sama lagunya Ryan Cabrera waktu SMP yang judulnya Photo. Sebentar gue buka di youtube. Selesai itu, mata gue tertarik dengan satu video di daftar suggested video.. Video dengan potret dua remaja dan seorang bayi. Teen Parents, judulnya.

Jadilah gue nonton satu video Q&A mereka. Gue baru tau istilah teen parents and I was like, “Hmm, okay.” Karena penasaran, gue jelajahi akun youtube itu trus gue scroll scroll scroll sampe ke video tentang cerita mereka, 15 and Pregnant : My Story

Alkisah, si pemilik akun youtube ini mengunggah kisah hidupnya seputar kehamilannya di usia 15 tahun. Emily, the teen mom, masih berusia 15 tahun dan pacarnya, Joan, masih 16 tahun ketika Emily hamil. Cerita gimana orang tua Emily tahu anaknya hamil bukan hal terbaik di dalam hubungan mereka walaupun Emily ini kalo cerita santai-santai aja kayak gue lagi dengerin adek gue cerita. Setelah masa-masa dimarahi orang tua, Emily dan Joan menyewa sebuah kamar apartemen dan tinggal di sana. Lalu Emily melahirkan bayi laki-laki yang dinamai Levi di usia 16 tahun.

Gue sarankan nonton aja video-videonya karena gue gak bakal merangkum cerita ‘rumah tangga’ mereka di sini. Capek cyin. Yang ada, gue mau bilang kalo gue belajar dari mereka. Ya, dari mereka yang dicerca, dipandang sebelah mata, divonis melanggar agama, diremehkan.

Pertama. Dari hamil dan seterusnya, mereka berdua masih sekolah di public school! What a courage. Tapi agak kaget juga pas mereka bilang beberapa anak di sekolah mereka juga teen parents. Anyway, mereka tinggal di Texas, AS.

Kedua. Emily udah ngebayangin orangtuanya bakal ngamuk abis-abisan kalo dia kasih tau dia hamil. Ternyata, orang tuanya tidak marah seheboh yang dia bayangkan. Nyokapnya memang marah, tapi Emily selalu ulang-ulang kalo nyokapnya tidak sampe ngamuk hanya meninggikan suara. Walaupun memang nyokapnya bilang mau usir Emily (yang bokapnya tolak), tapi dia tetap di rumah dan dirawat. Bahkan Emily senang banget pas cerita gimana kemudian bokapnya mengelus perut hamilnya Emily dan memberikan nama panggilan untuk si janin. Gue jadi keinget sama video tentang kasih ayah, kurang lebih menggambarkan respons Ayah Surgawi kita juga saat kita bersalah dan mengecewakan-Nya.

Ketiga. Emily dan Joan tidak patut diremehkan. Lo tahu aja komentar orang di dunia maya kan suka-suka hati, pediiiss. Ada yang bilang Emily whore lah slut lah, marahin mereka karena pernah kasih “advice to teen parents” seakan-akan mereka menyarankan anak-anak remaja untuk hamil dan melahirkan dini, sampe nuduh mereka enak-enakan aja terima barang-barang dari orang tua mereka. Well. Di dalam video terbaru mereka gue jadi kayak, “Ok. I learn the lessons.”

Orang bisa mudah marahin mereka karena kasih “advice to teen parents” karena mereka dibilang malah ngajarin para remaja untuk gpp hamil dini. Padahal mereka gak maksud gitu. Mereka justru memberi semangat buat remaja lain yang sama dengan mereka,

“Your life is not over.”

Yang gue lihat, gimana dia berani cerita dan memberi encouragement untuk para remaja sepenanggungan dengannya itu adalah suatu hal yang patut diapresiasi. Berapa banyak remaja yang putus harapan karena accident kayak mereka dan hidupnya seakan berakhir, tapi dengan melihat gimana ‘keluarga kecil’ ini bahagia gue rasa menjadi penyemangat hidup buat mereka yang berhadapan dengan masalah serupa. Bagaimana yang semula adalah bencana akibat pilihan yang salah untuk Emily dan Joan kemudian menjadi berkat buat orang lain.

Nah terus ternyata kamar apartemen, mobil, dan barang-barang mereka semua itu mereka beli sendiri! Hanya sebagian sangat kecil yang mereka dapat dari orang tua. Bahkan mobil mereka itu si Joan yang beli! Oke mungkin tingkat kesulitan menabung untuk beli mobil di AS dan di Indonesia beda kali ya. Mereka juga dapat pemasukan dari video-video unggahan mereka karena videonya banyak yang nonton dan si Emily juga tulis alamat mereka untuk menerima hadiah-hadiah. Kata mereka sih pemasukan dari situ “a lot“. Tuhan memelihara hidup mereka.

Usia 16 dan 17 tahun, masih sekolah, udah punya anak, kerja juga untuk memenuhi kebutuhan. Joan sempet gak sekolah karena di drop out lalu dia bekerja. Tahun ini, Joan mengundurkan diri dari pekerjaannya dan Emily bisa lulus setahun lebih cepat dari yang seharusnya. Benar-benar yah Tuhan pelihara hidup mereka.

Memang. Mereka gak ada ngomong Tuhan gini dan gitu sama mereka. Bahkan si Emily malah selalu berdoa di tengah-tengah kebadungannya. Hahaha. Tapi yah kita gak bisa tutup mata dengan adanya kasih Allah di dalam kehidupan mereka.

Mereka udah salah. Mereka tanggung konsekuensinya, dimarahin orang tua, dicerca orang-orang, berhenti sekolah sementara, harus bekerja, jaga anak juga.

Tuhan memelihara dan memberkati mereka. Pekerjaan Joan bisa mencukupi kebutuhan hidup, dapat banyak donasi dari video tampilan ‘aib’ mereka, Emily bisa lulus setahun lebih cepat.

Mereka jadi berkat buat orang. Para remaja lain termotivasi hidupnya. Orang dewasa terpacu juga. Bukan. Bukan terpacu untuk punya anak sekarang, tapi terpacu untuk lebih semangat menjalani hidup.

Bahwa ada harapan.

Seburuk apapun pilihan yang kita buat, ada harapan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s