Bersyair

Mawar Putih

Ia adalah mawar putih

Bersih dan murni, cantik dan suci

Kini tertunduk layu, Ia tertunduk malu

Ia adalah mawar putih

Ronanya tak lagi putih, Ia cemar

Harumnya tak lagi semerbak, Ia busuk

Dipandang, tak lagi elok

Disimpan, tak lagi indah

Dicium, tak lagi harum

Dibuang, sayang

Ia adalah mawar putih

Tertunduk

Layu

Dan malu

  

Terinspirasi dari sisa hidup 3 tangkai mawar putih sisa buket bunga pasca-pendadaran. Udah lama gak nulis macem-macem. Too much thought, too little time. Sibuk nyekripsi. Dalih aja sih. 

Sedikit curcol nih. Wkekek. 

Beberapa orang bilang gw (yang demen bikin tulisan macam di atas nih) gak jelas, lebay, apa-apa dimasukkin ati, baper, cengeng, galau-an, atau apapun lah. Awalnya sih gue agak gentar juga diomongin gitu sampe gue insecure sendiri menyatakan diri gue yang sebenarnya. Takut gak diterima lingkungan, takut dikucilkan, takut disisihkan, takut program yang ada keterlibatan gue nya ditolak karena mereka gak suka sama gue. 

Tapi pengalaman disalahmengerti dan disalahtempatkan selama berbulan-bulan yang sudah berlalu ini bikin gue belajar. Pertama, belajar jadi diri sendiri. Kalo terus-terusan jadi yang orang lain mau, bisa mati gue. Kedua, belajar menerima mereka yang sulit-menerima-orang-yang-berbeda-dengan-mereka apa adanya sebanyak gue ingin dimengerti apa adanya.

Remember that you cannot read hearts. You do not know the motives which prompted the actions that to you look wrong. 

Itu kutipan dari buku Ministry of Healing nya Ellen G. White, seorang penulis buku-buku yang ngajarin hidup dari A sampe Z (Sampe ngajarin lo boleh main catur apa nggak lho!). Dia punya petuah okeh yang bikin gue kalem juga disalahpahami macam-macam sama orang. Kan gue gak paham 100% yah kenapa mereka bisa punya sifat menyalahpahamkan orang lain kayak gitu. Pengen juga sih nunjuk-nunjuk depan mukanya terus nuduh-nuduh a la sinetron dengan logat lo-gue yang kental, “Lo tuh ya!!”, protes dengan segala ketidakadilannya menghakimi gue dan menempatkan gue pada ketidaknyamanan hidup berbulan-bulan. 

Never cast them aside, never drive them to discouragement or despair by saying, “You have dissapointed me, or I will not try to help you.”

Tapi Budhe White dengan bijak mengingatkan kalo gue malah sebenarnya bisa jadi pengaruh baik untuk mereka. 

A few words spoken hastily under provocation – just what we think they deserve – may cut the cords of influence that should have bound their hearts to ours. 

Hmm. Maafkan tulisan ini ke belakangnya jadi lari dari judul. Tapi judul Mawar Putih nyambung juga kok dengan petuah si Ibu Putih. Oke. Sip. 

Anyway, gw belajar dari si Ibu Putih bahwa sikap menghargai orang yang “gak cocok” sama kita itu penting banget. Salah-salah sikap eh taunya kita udah bikin orang yang aslinya mawar putih kegemaran banyak orang jadi mawar yang layu dan tertunduk malu. Hmm. 

Akhir kata. Saya gak nyimpan dendam nyi pelet kok. Saya juga ngomong gini bukan mau jelek-jelekin orang. Saya memang agak gagap ngomong langsung sama orang. Saya lebih leluasa nulis begini, nulis kata-kata yang mungkin bakal terus disalahartikan oleh siapapun sebagai galau, baper, atau lebay. Thats okay. So, bare with me ya 😉

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s