Berkelana · Berkisah

Lebaran di Atambua : Refleksi Keberagaman

image

Sepanjang seperlima abad kehidupan gw, lebaran bukanlah hal yang lebih besar dari pada liburan bersama Papa. Ini karena bokap dapet libur panjang kalo lebaran. Sejauh ini, libur lebaran favorit gw adalah lebaran gw di usia 17 tahun karena untuk pertama kalinya gw pulang ke kampung halaman di Aeknauli, Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Sebenernya gw pernah pulkam sih, waktu umur 8 bulan, tapi lo pikir aja gw mau inget apa coba tentang kampung gw di usia 8 bulan.
Lebaran tahun ini berbeda, sangat berbeda malah. Gw sedang mengemban tugas kampus, tinggal bersama puluhan orang yang baru gw kenal, bertemu orang-orang yang ga bisa gw ngerti omongannya dalam sekali dengar, di tanah entah berantah. Ini cerita lebaran gw di Atambua. Cerita yang membuktikan bahwa “perbedaan itu indah” bukan mitos.

Ini intro singkatnya. Gw lagi KKN di Atambua, daerah perbatasan Indonesia – Timor Leste dengan mayoritas penduduknya beragama katolik. Satu tim KKN terdiri dari maksimal 30 mahasiswa dari berbagai jurusan di kampus gw – tim gw isi 29 orang. Satu tim gw ini dibagi ke 2 desa, masing-masing 14 dan 15 orang. Gw berkeluarga dengan 28 orang dan tinggal bersama di bawah satu atap dengan 14 orang yang baru gw kenal. Mereka berasal dari beragam jurusan, beragam keluarga, beragam suku, beragam agama.

Katakanlah hari-hari KKN gw dimulai di hari Sabat yaitu jumat malam tanggal 10 Juli 2014, detik kami bertolak dari Jogja. Di hari-hari awal KKN gw, gw ikut sahur, gw sarapan subuh-subuh cooy. Dalam ± 2 minggu puasa, gw terbiasa ga makan siang karena temen-temen serumah gw pada puasa. Makan malam gw bertepatan dengan terbenamnya matahari alias pas temen-temen gw buka puasa. Itu soal makan.
Dalam 2 sabat berturut-turut, gw ga ke gereja. Yang pertama karena kami lagi di dalam perjalanan menuju Atambua. Kami tiba di Atambua di hari minggu jam 12 teng, kaum kristen dan katolik di tim KKN gw ga ada yang ke gereja. Kami buat ibadah sederhana malam itu. Seorang teman katolik minta untuk “dikembalikan ke jalan yang benar”. Hahaha. Ini canda yang serius.
Kedua kalinya gw ga gereja adalah karena gw ga tau gimana caranya gw bisa ke gereja. Gw itu tinggal di desa yang listrik pun belum masuk dengan akses ke jalan raya sejauh 1.8km yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Suatu sabat sore yang diberkati, Tuhan menunjukkan cara gw bisa ke gereja. Gw dan temen-temen gw nyasar sampe kota Atambua yang ternyata hanya berjarak tempuh ± 30 menit. Fix gw bertekad ke gereja untuk sabat-sabat berikutnya. Hari minggunya, gw ikut gereja minggu. Harus diakui, hidup kristiani butuh persekutuan, butuh ketemu saudara-saudara seiman. Kami dapat info ibadah di GMIT (Gereja Masehi Injili di Timur) dimulai jam 8. Ternyataaaa, ibadahnya mulai jam 7.30. Kami langsung banting setir ke gereja katolik yang mulai jam 8.30. Kami yang kristen dan katolik jadi beribadah bersama-sama lagi, di gereja katolik. Buat gw, seorang advent sejak dari kandungan, ini pengalaman pertama gw beribadah di gereja katolik.

image

Sabat berikutnya, gw gereja sesuai identitas gw, yaitu anggota GMAHK (Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh). Jumat sore gw berangkat ke Atambua atas undangan Gembala Jemaat Atambua untuk nginep di rumahnya. Btw, anak-anak Pak Pen nih cantik-cantik dan lucu-lucu.

image

Besoknya, hari minggu, gw ikut ke gereja minggu lagi. Karena gw ikut, satu teman muslim yang pengen-tahu-aja ga jadi ikut ke gereja.
Sehari-hari, kami seringkali membahas agama dan perbedaan di antara kami. Temen-temen muslim jadi tahu bedanya kristen dan katolik. Gw pribadi jadi semakin tahu soal katolik dan muslim. Temen-temen juga jadi tahu soal advent dengan makanan yang dijaga dan hari sabat. Temen-temen kristen ikut buka puasa sama yang muslim. Ini bisa jadi puncaknya, kami lebaran. Yeey!

Sebagaimana Indonesia tahu, lebaran tahun ini jatuh pada Senin, 28 Juli 2014. Minggu sore, sepulang gereja, kami bertolak ke rumah seorang Ibu dari Bapedda, Ibu Siti namanya. Jadi kami, satu tim atau 29 orang, diundang untuk melewatkan malam takbiran dan lebaran di rumah Bu Siti di Atambua. Sayangnya temen-temen non muslim dari desa Rinbesi Hat (bukan desa tempat tinggal gw) ga bisa ikut karena ngebantuin orang desa yang mau nikahan. Gw sedih, ga ada Grace. Rasanya kaya KKN dengan semua orangnya baru gw kenal. Padahal gw janjian KKN bareng Grace biar ada temennya di satu tim. Malah beda desa, jarang ketemu, sekalinya bisa ketemu malah ga ketemu😥

Jadilah kami masak-masak, makan-makan, kenyang-kenyang. Sumpah ya gw kenyang banget nget nget.

image

image

Ini beberapa ucapan idul fitri dari temen-temen KKN gw.

image

image

Source : Path

image

image

Source : Line

Ini dari temen-temen yang “tertinggal” di Rinbesi Hat, dari mereka yang mengemban tugas desa, mereka yang tidak merayakan lebaran, mereka yang bukan muslim, mereka yang mengucapkan selamat.

image

image

image

Source : Line

Ini ucapan dari (sebagian) anak-anak sipil 2011A

image

Source : Whatsapp

Ini yang epic menurut gw. Ucapan lebaran di dalam Konsisten Smantiboo (Komunitas Siswa Kristiani SMA N 3 Bogor), orang kristen ngucapin sama orang kristen. Lebaran a la kristen.

image

Source : Line

Pak rektor, ini pengayaan batin dan petualangan kemanusiaan saya selama 2 minggu menjalani KKN. KKN memberi pengalaman yang berharga. Persahabatan lintas agama, mengenal Tuhan melalui banyak sudut, hari raya untuk semua orang, Tuhan untuk semua umat. Program kluster saya belum ada yang jalan Pak, tapi batin saya sudah bertualang jauh di tanah entah berantah ini.

4 thoughts on “Lebaran di Atambua : Refleksi Keberagaman

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s