Berkisah

Kembali ke Alamnya

But everybody’s changing and i don’t feel the same.

Ini cerita dengan beragam emosi. Bisa rindu, bisa syukur, bisa bahagia, bisa juga sedih. Cuma proses hidup yang namanya “perubahan” yang bisa menciptakan beragam emosi dalam satu waktu.

Ceritanya udah 20 tahun nih gw. Udah mulai kan melihat teman-teman lama; apa kabar mereka, sekarang kuliah dimana atau kerja apa atau bahkan anaknya udah berapa, kesukaannya apa, masih kaya dulu ngga. Yaah kepo-kepo peduli gitu kaaan.
Hasil dari operasi kepodulian gw adalah ternyata teman-teman gw banyaaaak banget yang udah berubah. Walaupun masih ada sih yang dulu playboy tetep playboy, yang dulu suka main musik tetep main musik, yang dulu suka galau tetep galau. Tapi yang berubah drastis ini mengejutkan juga ; ada yang dulunya badung luar biasa jadi alim, statusnya kristiani gituu ; yang dulunya tukang meler jadi koki hotel berbintang ; yang dulunya tomboy jadi cewe gwl. Macem-macem laah.
Makanya itu gw jadi terdorong untuk ceritain dua orang terdekat gw di masa lalu yang sekarang sudah berubah. Gw bilang sih mereka kembali ke alam mereka.

Yang pertama adalah pacar pertama gw. Dia adalah temen SD gw. Dia seorang yang berkebangsaan tionghoa asal bangka belitung, gw orang batak asal jabodetabek. Dia putih, gw item. Meski rambut kami sama-sama melawan gravitasi, rambutnya lurus sementara gw keriting. Kalo dipikir-pikir gw sama dia jauh banget sebenernya. Tapi entah gimana chemistry-nya, intinya gw pernah menjadi salah seorang terdekatnya.
Yang kedua adalah temen-deket-yang-kemana-mana-selalu-berdua gw masa SMA, si Ndy. Dia suka foto-foto, gw engga. Dia suka nonton Glee, gw engga. Dia suka Katy Perry dkk, gw engga. Dia suka baca Looks Magazine, gw engga. Dia suka biologi, gw engga. Dia suka ke salon, gw engga. Dia suka mix&match baju lucu-lucu, gw engga. Pokoknya apa yang dia suka, gw ngga sukaaa aja. Tapi ga tau kenapa, dia satu-satunya salah satu orang yang mau berteman sama gw.

Ya emang aneh kalo dua orang yang beda jauh bisa punya hubungan yang sangat dekat. Sebenernya gw dan kedua orang ini ada juga kesamaan-kesamaannya. Dengan si temen SD ini ; dia suka main basket, gw juga ; dia pemain basket kan dulu, gw gemar banget nonton basket dulu ; dia lomba fisika, gw lomba matematika ; dia suka mentraktir, gw suka ditraktir. Hehehehe. Kalo si Ndy, satu hal yang paling nyambungin kami : Taylor Swift. Lain lagi soal sama-sama suka main The Sims sama Jojo’s Fashion, trus suka makan spaghetti pake nasi (ga suka sih ini sebenernya, pernah aja sekali), daaan sama-sama pelit bales sms. Oiyah! Satu lagi, sama-sama pelit memuji. Hahahahaha. Dia sebenernya terkadang muji gw tapi gw sok cool kan, jadinye doi males. Sementara gw? Ga ada tuh ceritanya gw muji ndy, gengsi cuuuy. Hehe.

Setelah 9 tahun terpisah dari si temen SD ini, masing-masing kami menyusuri jalan yang berbeda. Gw ga lagi suka basket, sementara dia menekuni basket sampe sekarang. Gw kembali bergaul dengan pribumi, dia lanjut sekolah di sekolah-sekolah dengan mayoritas cina sampe sekarang. Gw terus menjaga hati, dia udah berkali-kali pindah hati, dan cewe-cewe pemilik hati itu udah ga ada lagi yang keriting item kaya gw, sampe sekarang. Dia semakin cina, gw semakin pribumi.
Soal ndy, 3 tahun ga pernah bareng-bareng lagi mengembalikan kami ke “rumah” kami masing-masing. Instagram gw isi fotonya soal alam, instagram dia isi fotonya soal dirinya bergaya a la cover majalah (trubus, hahaha ga ndy sorry). Dia kuliah ekonomi dengan berkawan ciwi-ciwi rempong penikmat fashion dan cowo-cowo pemerhati diri (in a good way lho maksud gw, ga ada niat buruk), gw kuliah teknik dengan berkawan cowo-cowo macho penikmat film romantis dan cewe-cewe yang menganggap salon adalah tempat paling tidak produktif sedunia. Ndy tambah jadi ndy, gw tambah jadi gw.

Begitulah ceritanya.
Cerita sedih karena telah kehilangan teman lagi. Gw bukan lagi orang yang mereka cari-cari.
Cerita bahagia karena mereka bahagia. Gw senang melihat mereka bisa semakin menjadi diri mereka yang sebenarnya.
Cerita syukur karena mereka ada di dalam cerita hidup gw. Gw bersyukur pernah menjadi orang terdekat mereka.
Yang terakhir, Cerita belajar. Kalo ga pernah kenal mereka, gw ga akan belajar mengenali siapa gw, apa yang gw suka, apa yang gw tidak suka. Tanpa mereka, gw ga bisa mengenal diri gw seperti sekarang ini.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s