Berkisah

Rumput yang Bergoyang

Udah baca judul tulisan ini? Belum? Kalo belum, baca dulu deuh. Gw yakin kalian sudah sering mendengar frasa ini.

Tanyakan pada rumput yang bergoyang

Tau dong frasa di atas? Yup, frasa ini populer lewat lagu karya Ebiet G. Ade yang gw ga tau judulnya apa hahahaha. Ntar deuh kapan-kapan gw cari.

By the way, pernah ngeliat rumput yang bergoyang? Atau pernah ngebayangin aja? Kalo gw, baru aja memperhatikan rumput yang bergoyang. Yaah mungkin sebenernya gw udah pernah liat rumput bergoyang berkali-kali, tapi baru kali ini gw memperhatikannya. Dia kemudian membawa angan tua gw ke sebuah gugusan pulau yang diam di tenggara Indonesia.

Semua cerita rumput bergoyang ini bermula di sebuah ruang 3×4 meter luas. Pendingin ruangannya menenangkan pikiran siswa-siswi yang cemas akan masa depan. Mereka menyandarkan satu-satunya harta mereka, waktu, pada sesi belajar ekstra yang lain di lembaga pendidikan informal, katakan saja les namanya. Yup, you could say that they were the seniors in high school and all they gotta do was just study hard to chase their dreams.
And there she was, dreaming another dream in another tiring afternoon. Dia memimpikan sebuah padang rumput hijau terbentang di angannya. Bukit-bukitnya melekukkan keindahan di kejauhan. Mungkin kau bisa tambahkan sebuah pohon yang sendiri berdiri di tengah padang rumput itu. Jangan lupakan gersang tanahnya dan sejuk anginnya yang bertiup menyeka peluhmu. Kau bisa lihat rumput pun berbahagia karena sang angin datang berkunjung, ia bergoyang. Jika kau menengadah ke atas, kau bisa lihat hamparan kemuliaan Tuhan yang tinggal di balik awan. Langit itu masih biru namun teduh, si putih menemaninya. Padang rumput itu kesepian sebelum kau melihat seekor kuda yang gagah berlari-larian ikut masuk dalam bingkai khayalmu. Ia liar, hidup dengan bebas, ia bukan jenis kuda yang sering kulihat menarik delman dan berlari kecil di atas aspal atau jenis kuda yang berjalan pelan dituntun tuannya untuk ditumpangi wisatawan di dataran tinggi. Langkahnya menjejaki rerumputan, memberi harmoni pada desiran angin, rangkaian derap kaki yang kuat itu menenangkan. Padang rumput, angin, rumput yang bergoyang, sebatang pohon, dan kuda liar yang berlari tenang. Nothing i could ask more. Membayangkannya saja sudah cukup mempesona.
Pintu ruang ber-AC itu terbuka, gurunya sudah datang. There she came back to the real frame. Tapi dia tidak kembali sia-sia dari padang rumput itu. Dia membawa bingkai khayalnya menjadi sebuah impian. Mungkin Sumbawa atau Sumba. Yang jelas suatu hari bingkai itu harus nyata. Harus.

Tiga tahun berlalu, gw masih menyimpan baik bingkai itu dan gw masih berkeinginan kuat untuk menjejakkan kaki di padang rumput itu. Gw ga tau sebenernya dimana gw bisa menemukan gambar itu, gw pikir mungkin sumbawa karena ada yang namanya kuda sumbawa kan hehe. Yang jelas sih gw yakin gw bisa menemukan padang rumput ini di Nusa Tenggara, entah barat atau timur.
Wey prolognya kepanjangan yah? Hahaha maap.

Tahun 2014 ini, gw bikin resolusi menyambut resolusi perdana gw di tahun 2013. Nih cerita kuda sumbawa gw masukin ke jajaran resolusi gw. Ni resolusi ga asal bikin yah. Berhubung tahun lalu gw udah nyampe pulau lombok dan puncaknya tanpa pernah gw bayangkan, masa tahun ini gw ga bisa bergerak ke timurnya sedikiiiiiiit lagiii. Demi ya ampun demi si kuda sumbawa ntu.
Entah mengapa yah. Si kuda sumbawa sama padang rumput bergoyang ini membayang-bayangi gw terus padahal tahun 2014 belum genap 2 bulan.
Nih ya, pertama, tempat KKN tujuan tim gw di Atambua, NTT. Gw ngeliat video buatan tim KKN tahun lalu daaaan terpaku sekaligus terpukau sama padang rumput di sana, hanya saja temannya si rumput bergoyang di Atambua bukan kuda tapi sapi.
Kedua, nah yang kedua ini yang paling paling paling bikin envy to the max. Gw nonton suatu acara travelling yang dipandu Nadine Chandrawinata kan dan di acara ituuuuu.. gw liat dia menunggangi kuda sumbawa membelah padang rumput gersang berlatarkan langit jingga. Oh maaaaaaaaann! What could be more beautiful than that?
Ketiga niih. Tadi pagi si rumput bergoyang datang lagi. I was on my flight from home and i read the plane’s travel magazine as usual. There was an article that way toooo interesting for me. Yup, an article about savannah, in Sumba. Dudududuuh foto-fotonya cantik-cantik bangeet. Belum selesai cerita padang rumputnya. Begitu pesawat mendarat dan antre parkir, sesuatu di luar sana menarik perhatian gw. Ada padang rumput juga di bandara!

image

Yaaah ga bisa dibilang padang rumput juga siiiih, secara rerumputnya ga seluas kota Padang. Tapi pemandangan singkat itu cukuplaaaah membuat gw terkagum plus semakin rindu sama si padang rumput impian. Gw emang di dalam pesawat, tapi rasanya gw tau sejuknya hembusan angin di luar. Gw emang jauh dari rerumputan itu, tapi rasanya gw bisa liat mereka bergoyang seolah-olah menyambut gw kembali ke tanah perantauan (maafkan jika anda melihat saya geer sekaligus gila di saat yang sama, hehe).

Jadilah si rumput bergoyang ini selain mengantar gw pada kerinduan “kuda sumbawa yang berlarian di padang rumput” di depan sana, mereka juga mengantar gw pada kerinduan akan semangat berjuang dan bercita-cita gw waktu impian (hasil khayalan) tadi muncul di belakang sana.
Dipikir-pikir, dipikir-pikir, gw lagi malas semalas-malasnya belajar. Semangat gw munculnya kayak kembang api, it sparks for a while then dies for long while.
Diingat-ingat, diingat-ingat, gw jadi ingat waktu kelas 3 SMA dan segala kegilaan belajar gw untuk satu tujuan. Gw pengen semangat itu lagi. Ga perlu sampe se-capek dulu deh, gw minta sepercik semangatnya aja.

Mungkin Tuhan lagi kasih kuliah singkat filsafat kehidupan buat gw kali yah. Kuda sumbawa, padang rumput, dan rumput bergoyang itu memang membawa gw mengenang semangat bercita-cita gw di masa lalu. Lelah iya, tapi dulu gw ga bosan-bosannya berharap untuk sampai ke satu titik impian gw saat itu yaitu titik gw berada sekarang ini. Mmh, mungkin ke depannya kapanpun gw lelah, kapanpun gw jenuh, ataupun gw muak, gw bakal menanyakan impian gw dan semangatnya pada rumput yang bergoyang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s