Berkisah

Pinjam Jari

Ceritanya, nih.. gw baru bergabung dengan sebuah gerakan peduli pendidikan, YRBK Kagem atau panjangnya Yayasan Rumah Belajar Kreatif Kaki Gunung Merapi. Terhitung sejak awal Oktober 2013 yang lalu, gw dan Ita, mulai ikut mengajar anak-anak SD sampai SMP yang tinggal di sekitar Markas Kagem di Jalan Kaliurang KM 10. Sebenarnya kalo mau diceritain satu per satu pengalaman gw “main” ke Kagem, cerita ini jadi panjang banget. Hehe. Walaupun baru lima kali main ke Kagem, semua pengalaman menarik untuk diceritakan. Untuk kesempatan ini, izinkan gw bercerita pengalaman yang paling unik. Ehem.

Kali keempat gw dan Ita main ke Kagem (penting diketahui bahwa gw sama Ita itu satu paket karena gw nebeng, hehe), gw berkesempatan mengajar gadis-gadis kelas 1 SD yang polos nan lugu. Hmm, biarpun bahasanya lebay, tapi bener deh, mereka memang polos dan lugu.
Mereka adalah Tia, Friska, dan Diva. Yang satu cantik, yang satu manis, yang satu.. Genit. Hahaha. Bukan genit yang negatif lho ya, genit-genit anak kecil gitu.
Setelah basa-basi lalalala, kami belajar matematika. Gw ajukan proses belajar sore itu, “Mba kasih soal, nanti kalian kerjain yaa.”
“Iya, mba.”
“Hmm, berapa soal ya? Tiga dulu ya?”
“Ha? Tiga?”
Ha? Kenapa nih gadis-gadis protes waktu gw ajuin tiga soal? Kebanyakan apa?
“Sedikit banget, mba.”
Heeee, ternyata mereka pikir itu terlalu sedikit. It was so unlikely from what i have heard for so long. Nyadar ga sih kalo kita yang udah gede-gede gini ga pernah lagi denger semangat belajar kaya gitu? Di situ gw baru sadar kalo gw udah lamaaaa banget ga denger yang namanya murid minta banyak soal untuk dipelajari seakan belajar dan mengerjakan soal adalah kesukaan buat mereka. Kalau diingat-ingat, sepanjang perjalanan belajar gw dari SMP sampai kuliah di tahun ketiga ini, gw ga pernah denger yang namanya murid minta soal dibanyakin kaya gitu. Yang ada malah murid-murid (termasuk gw) malah seneng kalau soalnya semakin sedikit atau semakin mudah. Seketika itu gw jadi merasa nostalgic mengenang masa SD yang polos dan penuh semangat belajar, tapi juga merasa malu di saat yang sama.

“Haa? Maunya berapa?”
“Sepuluh, mba. Sepuluuuh.”
“Okeee.”
Gw pun menulis sepuluh soal pengurangan bilangan di papan tulis. Mulai dari pengurangan satuan dengan satuan, belasan dengan satuan, sampai puluhan dengan belasan. Gw senang lihat mereka bisa ngerjain soal-soal tersebut dengan mudah, walau terkadang mereka minta dibantu juga.
Sampailah kami di soal dengan angka belasan. Gw perhatiin kan gimana mereka menghitung pengurangan angka belasan, gw pengen tau cara apa yang mereka ketahui. Ternyata oh ternyataa, mereka menggunakan jari-jari di kaki mereka untuk menambah angka sepuluh di tangan mereka. Jadi saat mereka menghitung tiga belas dikurangi tujuh, mereka menyiapkan sepuluh jari di tangan mereka plus tiga jari di kaki, lalu menutup satu demi satu jari sampai tujuh jari tertutup. Dapatlah enam jari yang tersisa, itu jawabannya. Yeeeey!! Melihat itu, gw cuma bergumam dalam hati, “Hmm, okeeeee.”

Untuk dua soal terakhir, gw buat soal pengurangan dengan bilangan pengurang di atas dua puluh. Masih penasaran, gw tunggu mereka hitung soal nomor 9 dan 10 tersebut. Friska, yang dikaruniai bakat berhitung cepat, udah mulai uring-uringan. Kemudian si Friska seperti mendapat ide cemerlang, mengisyaratkan bahwa dia mengingat suatu cara. Friska angkat suara, “Mba, pinjam jarinya mba.”
Heeee? Pinjam jari? Apa pula ituu?
Friska meminta gw mengacungkan 3 jari gw untuk membantu dia menghitung 23 dikurangi 8. Mulailah dia menghitung pengurangan itu.
Ketika Friska masih “meminjam” jari saya, Tia juga mengerjakan soal yang sama dengan Friska. Dia pun “meminjam” 3 jari di tangan kiri gw. Kemudian Diva juga melangkah ke soal yang sama.
“Gimana ini gimana? Kamu mau pinjam jari mba yang mana lagii?” ratap gw dalam hati. Diva pun “meminjam” jari Mba Evi yang lagi mengajar di kelompok sebelah.

Akhirnya gw menjelaskan kepada mereka bagaimana caranya menghitung pengurangan tanpa pinjam-meminjam jari. Gw pikir-pikir metode pinjam-meminjam tidak baik untuk perkembangan anak. Gimana kalo mereka kebiasaan minjem jari orang trus lupa balikin? Kan mereka jadi ngutang jari banyak bangeeett hahahahahapasih

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s