Nilai UN Untuk Penerimaan Mahasiswa Baru?!

Huaaaaah! Bener deh gw kaget banget baca berita tentang hal ini. UN bakal dimasukkan dalam formulasi dalam Penerimaan Mahasiswa Baru?! Meeeen, gw ga setuju 100% (siapa gw?). Bukan karena kecemburuan angkatan atau semacamnya ya *gelenggeleng, tapi sungguh deh menurut gw kebijakan ini ga bijak banget.

Okeh. Pertama kita lihat alasannya -> Alasan Mengapa Nilai UN Jadi Syarat Masuk PTN. Menurut artikel tersebut, alasan dasarnya ada 3 : praktis, ekonomis, dan upaya menghilangkan penyimpangan dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Setelah gw baca kalimat itu, emosi gw udah kaya mahasiswa siap demo *huhahuhah *lebay. Pasalnya, ‘penyimpangan’ itu sebenarnya bukan terjadi di dalam SNMPTN saudaraaaa, tapi dalam UN!

Asas praktis dalam dimasukkannya nilai UN dalam formulasi PMB itu benar juga. Jadi siswa ga perlu belajar dua kali kan (UN + SNMPT), atau tiga kali (UN + SNMPT + UM), atau empat kali (UN + SNMPT + UM + UM lagi), atau lima kali, dst. Tapi yah tapi UN dan Seleksi Masuk Perguruan Tinggi tuh punya tujuan yang berbeda *setuju sama Pak Rektor UGM -> UGM Tolak Nilai UN Jadi Syarat PMB PTN.

Alasan ekonomis juga dapat dikatakan bagus. Berarti kan kalo UN diintegrasikan dengan PMB, jadi ga perlu bayar sampe ratusan ribu, paling puluhan ribu aja. Tapi yah anda ga tau aja kalo para siswa itu udah mengeluarkan banyak uang untuk bimbingan belajar di sekolah, bimbingan belajar di lembaga pendidikan lain (okeh, yang dua tadi masih bagus), juga untuk beli kunci jawaban UN (yang ini baru ga bagus). Sekarang buka mata, buka telinga, buka mulut. Sebagian besar dari kamu yang sudah menjalankan UN SMA pasti melihat dan mendengar apa yang aku lihat dan dengar juga. UN tidak lagi jadi sesuatu yang murni, politik bermain di dalamnya (politiknya maksudnya bukan yang berhubungan sama parpol atau DPR yaaa -__-). Kunci jawaban UN tuh bisa diperoleh dimana-mana kawan! Bak memilih barang di pasar, kamu bahkan bisa milih bermacam kunci jawaban dengan tingkat keakuratan jawaban yang beragam. Contoh, kunci jawaban untuk dapat nilai 60 harganya Rp 600.000, untuk nilai 80 harganya Rp 1.000.000, kalo mau dapat nilai 100 harganya Rp 10.000.000 (well, that’s just an example). Selain itu, kamu juga bisa milih kunci jawaban produksinya sekolah mana. Kalo yang bikinan SMA HHH harganya Rp 7.000.000, bikinan SMA RRR harganya Rp 12.000.000, SMA RRR nya pun tau diri masang harga segitu karena mereka ‘dikenal’ lebih ‘berkualitas’ dari SMA HHH. (eh, kok lama-lama gw jadi kaya sales kunci jawaban sih?)

Lagipula yah, pembelian kunci jawaban UN itu bukannya ga diketahui pihak sekolah. Justru guru-guru dari sekolah itu sendiri yang membuat kunci jawaban dan menjualnya. Atau kalau sekolah itu ga menyediakan kunci jawaban, dia bakal menyarankan muridnya untuk beli kunci jawaban dari sekolah ini atau itu. Dan para pengawas itu juga bukannya terlalu bodoh untuk tidak mengetahui murid-murid saling bercontek ria saat UN, tapi mereka kasihan ngelihat anak-anak itu. Dipikirnya sayang banget kalo usaha 3 tahunnya anak-anak bodoh nan licik manis nan lugu itu dipertaruhkan hanya dalam 3 hari saja. Fiuuh~ kompleks memang masalah ini kawan.

Well, tetep aja Pak Menteri sudah memutuskan untuk memasukkan nilai UN dalam formulasi PMB. Kita lihat saja nanti kelit apa lagi yang dibuat para murid dan excuse apa lagi yang diizinkan para guru. Pada akhirnya, dunia ini tidak bisa lebih baik lagi.

 

source : Kompas Online

image source : varies, credit(s) to the owner(s)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s